Pertanyaan yang sering muncul saat merencanakan klinik site adalah: berapa dokter dan perawat yang perlu direkrut? Jawaban singkat "satu dokter dan dua perawat" biasanya hanya menjawab berapa orang yang harus bertugas pada satu waktu. Jumlah orang yang perlu dipekerjakan jauh lebih besar, karena site berjalan siang dan malam, dan tenaga medis juga bergilir cuti mengikuti roster.
Artikel ini menjelaskan cara berpikir langkah demi langkah untuk menghitung kebutuhan itu. Contoh angka di dalamnya hanya ilustrasi. Kebutuhan tiap site perlu dihitung dari kondisi site itu sendiri.
Apa yang dimaksud roster 10:2
Roster adalah pola kerja dan cuti bergiliran yang umum di site tambang dan proyek terpencil. Dalam artikel ini, roster 10:2 berarti 10 minggu bekerja di site, lalu 2 minggu cuti di luar site. Ada perusahaan yang memakai satuan hari atau pola lain, misalnya 6:2 atau 8:2. Cara menghitungnya tetap sama; yang berubah hanya angkanya.
Satu hal yang perlu disepakati sejak awal adalah apakah hari perjalanan ke dan dari site termasuk dalam masa cuti atau masa kerja. Di site yang perjalanannya memakan satu sampai dua hari, perbedaan ini cukup berpengaruh pada hitungan.
Langkah 1: tentukan jam layanan dan pos jaga
Mulailah dari pertanyaan: kapan klinik harus siap melayani? Site yang beroperasi 24 jam membutuhkan klinik yang juga siap 24 jam, karena kecelakaan bisa terjadi kapan saja. Jam layanan ini lalu dibagi ke dalam shift, misalnya dua shift masing-masing 12 jam, atau tiga shift masing-masing 8 jam.
Perhatikan juga apakah ada pos jaga lain di luar klinik utama, misalnya pos pertolongan pertama di area kerja yang jauh atau petugas yang ikut dalam kegiatan berisiko tinggi. Setiap pos jaga dihitung sendiri.
Langkah 2: tentukan petugas per shift
Berikutnya, tentukan berapa dokter, perawat, dan tenaga lain yang harus ada di setiap shift. Pertimbangannya antara lain:
- jumlah pekerja yang dilayani dan jumlah kunjungan harian;
- jenis bahaya di site dan kemungkinan kasus gawat darurat;
- jarak dan waktu tempuh ke rumah sakit rujukan;
- apakah petugas harus mendampingi pasien saat evakuasi, sehingga meninggalkan site untuk sementara.
Ada juga batas bawah dari peraturan. Standar Klinik Kesehatan Kerja dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 11 Tahun 2025 menetapkan tenaga paling sedikit untuk klinik secara keseluruhan, bukan per shift: satu dokter, satu perawat, dan satu tenaga administrasi untuk Tipe 1; dua dokter (atau satu dokter dan satu dokter dengan kompetensi kedokteran okupasi), satu perawat, satu pembimbing kesehatan kerja, dan satu tenaga administrasi untuk Tipe 2. Standar itu juga menyebut jumlah tenaga dapat ditambah sesuai beban kerja dan jam operasional. Penjelasan tentang tipe klinik ada di artikel klinik site tambang.
Langkah 3: kalikan dengan jumlah shift
Jumlah petugas per shift dikalikan jumlah shift per hari menghasilkan jumlah orang yang harus ada di site setiap saat. Dengan shift 12 jam, satu orang bekerja satu shift per hari. Jadi, untuk menjaga satu posisi selama 24 jam dibutuhkan dua orang di site.
Langkah 4: terapkan faktor roster
Karena setiap orang bergantian cuti, jumlah orang yang dipekerjakan harus lebih besar dari jumlah orang yang ada di site. Faktor pengalinya dihitung dari pola roster:
Faktor roster = (minggu kerja + minggu cuti) ÷ minggu kerja
Untuk roster 10:2, faktornya adalah 12 ÷ 10 = 1,2. Jumlah orang di site dikalikan 1,2, lalu dibulatkan ke atas.
Langkah 5: tambahkan cadangan
Hitungan roster menganggap semua orang selalu hadir di luar masa cuti. Kenyataannya, ada yang sakit, ada izin mendadak, ada pelatihan wajib, dan ada petugas yang harus mendampingi evakuasi pasien. Karena itu, tambahkan cadangan yang disesuaikan dengan kondisi site.
Contoh hitungan (ilustrasi)
Misalnya sebuah site beroperasi 24 jam dengan dua shift masing-masing 12 jam. Misalkan pula perusahaan memutuskan setiap shift dijaga oleh satu dokter dan dua perawat. Angka ini hanya contoh untuk memperlihatkan cara hitung, bukan rekomendasi untuk site tertentu.
| Posisi | Per shift | Shift per hari | Di site setiap saat | × faktor 1,2 | Dibulatkan |
|---|---|---|---|---|---|
| Dokter | 1 | 2 | 2 | 2,4 | 3 |
| Perawat | 2 | 2 | 4 | 4,8 | 5 |
Dalam contoh ini, site membutuhkan setidaknya tiga dokter dan lima perawat hanya untuk menutup roster. Setelah itu, cadangan ditambahkan. Misalnya, bila perawat juga sering mendampingi evakuasi, perusahaan bisa menambah satu perawat sehingga totalnya enam.
Untuk dokter, angka tiga berarti tidak ada ruang cadangan saat salah satu dokter sedang cuti. Bila dokter di site juga harus mendampingi pasien ke rumah sakit rujukan, perusahaan perlu memutuskan: menambah dokter keempat, atau menyiapkan skema lain yang jelas, misalnya dokter pengganti dari luar site. Keputusan ini sebaiknya dibuat sebelum ada kejadian, bukan saat evakuasi berlangsung.
Periksa jadwalnya, bukan hanya angkanya
Hasil hitungan perlu diuji dengan menyusun jadwal cuti yang nyata. Tujuannya memastikan jumlah orang di site tidak pernah turun di bawah kebutuhan.
Masih dengan contoh di atas, siklus roster 10:2 berlangsung 12 minggu. Tiga dokter bisa dijadwalkan cuti bergiliran, misalnya dokter pertama pada minggu 1–2, dokter kedua pada minggu 5–6, dan dokter ketiga pada minggu 9–10. Dengan begitu, hanya satu dokter yang cuti pada satu waktu, dan dua dokter tetap berada di site. Lima perawat bisa dijadwalkan dengan cara yang sama: masing-masing dua minggu cuti secara berurutan, sehingga selalu ada empat perawat di site.
Bila jadwal seperti ini tidak bisa disusun, misalnya karena dua orang harus cuti bersamaan, berarti jumlah orangnya belum cukup.
Hal yang sering terlewat
Beberapa hal kecil sering membuat hitungan yang tampak cukup menjadi kurang di lapangan:
- Serah terima shift. Waktu tumpang tindih untuk serah terima pasien dan stok obat perlu dimasukkan ke dalam jadwal.
- Layanan siang hari. MCU berkala, pemeriksaan sebelum shift, dan program kesehatan kerja biasanya dijalankan pada jam kerja. Bila beban ini besar, bisa jadi dibutuhkan petugas tambahan yang hanya bertugas siang hari.
- Kelelahan petugas medis. Tenaga medis yang bekerja shift malam berminggu-minggu juga berisiko lelah. Prinsip pengendaliannya sama dengan pekerja lain, seperti dibahas di artikel kelelahan kerja pada pekerja roster.
- Izin praktik. Setiap tenaga medis dan tenaga kesehatan perlu Surat Izin Praktik (SIP) untuk berpraktik di klinik tersebut. Pengurusannya butuh waktu, sehingga perlu dimulai sebelum orang tersebut dijadwalkan bertugas.
- Aturan ketenagakerjaan. Pola roster dan jam kerja tenaga medis tetap harus sesuai dengan ketentuan ketenagakerjaan yang berlaku.
Menyusun jumlah tenaga dan jadwal roster adalah bagian dari layanan onsite clinic kami, bersama perencanaan fasilitas dan operasional harian klinik.




