Bekerja dengan sistem roster berarti berminggu-minggu di site, sering dengan shift 12 jam dan pergantian antara shift siang dan malam. Di sela itu ada perjalanan panjang ke dan dari site, kadang lewat udara, darat, dan air dalam satu hari. Semua ini bisa mengurangi waktu tidur dan membuat tubuh sulit beristirahat dengan baik.

Hasilnya adalah kelelahan kerja. Kelelahan bukan sekadar rasa capek. Kelelahan menurunkan kewaspadaan dan memperlambat reaksi, dan di site yang penuh alat berat, kendaraan, dan mesin, penurunan kecil saja sudah bisa berujung celaka. Artikel ini membahas tanda-tanda kelelahan, mengapa pekerja roster lebih berisiko, dan apa yang bisa dilakukan oleh pekerja, supervisor, dan klinik site.

Apa itu kelelahan kerja

Menurut NIOSH, lembaga kesehatan kerja Amerika Serikat, kelelahan di tempat kerja paling sering berkaitan dengan jadwal kerja tidak standar yang mengganggu atau memperpendek tidur, seperti shift malam dan jam kerja panjang. Faktor lain juga ikut berperan: stres, pekerjaan yang berat secara fisik atau mental, dan bekerja di lingkungan panas.

Dampaknya lebih luas dari sekadar mengantuk. NIOSH menyebut kelelahan bisa memperlambat waktu reaksi, menurunkan perhatian dan konsentrasi, membatasi ingatan jangka pendek, dan mengganggu kemampuan menilai situasi. Kelelahan bisa dialami siapa saja, di jenis pekerjaan apa pun.

Tanda-tanda kelelahan

Kelelahan sering tidak disadari oleh orang yang mengalaminya. Karena itu, penting mengenali tandanya pada diri sendiri dan pada rekan kerja. OSHA, badan keselamatan kerja Amerika Serikat, menyebut kelelahan dapat menimbulkan rasa letih, kantuk, mudah tersinggung, turunnya kewaspadaan, keputusan yang kurang tepat, serta berkurangnya motivasi, konsentrasi, dan daya ingat.

Di lapangan, tanda-tanda itu bisa terlihat seperti ini:

  • terus menguap, mata terasa berat, atau kepala terangguk-angguk;
  • sulit fokus, sering melamun, atau harus membaca instruksi berulang kali;
  • lupa langkah kerja yang biasanya sudah hafal;
  • reaksi lambat, misalnya terlambat mengerem atau menanggapi panggilan radio;
  • lebih mudah marah atau tersinggung dari biasanya;
  • tertidur sesaat tanpa sadar, terutama saat duduk diam, mengemudi, atau mengoperasikan alat.

Daftar ini untuk membantu mengenali pola, bukan untuk mendiagnosis diri sendiri atau orang lain. Rasa lelah yang terus-menerus, meskipun sudah cukup tidur, bisa berkaitan dengan kondisi kesehatan lain dan perlu diperiksakan ke tenaga medis di site.

Mengapa pekerja roster lebih berisiko

Shift malam

Tubuh punya jam biologis yang secara alami membuat kita tidur pada malam hari. Bekerja pada malam hari dan tidur pada siang hari melawan pola itu, sehingga tidur siang sering lebih pendek dan kurang nyenyak. Menurut penelitian yang dikutip OSHA, angka kecelakaan dan cedera sekitar 18% lebih tinggi pada shift sore dan 30% lebih tinggi pada shift malam dibanding shift siang. Bekerja 12 jam per hari juga dikaitkan dengan peningkatan risiko cedera sekitar 37%.

Tubuh juga butuh waktu untuk menyesuaikan diri setiap kali pola shift berganti. Karena itu, hari-hari pertama setelah pindah dari shift siang ke shift malam perlu diwaspadai.

Perjalanan panjang

Perjalanan ke site bisa dimulai dini hari dan berakhir larut malam. Bila pekerja langsung masuk shift setelah tiba, ia mulai bekerja dengan utang tidur. Hal serupa terjadi di akhir roster: pekerja yang baru selesai shift malam lalu langsung menempuh perjalanan pulang, apalagi dengan mengemudi sendiri, berisiko mengantuk di jalan. OSHA mengutip penelitian yang menunjukkan bahwa shift yang panjang meningkatkan risiko kecelakaan kendaraan dalam perjalanan pulang.

Lingkungan kerja

Panas, bising, dan pekerjaan fisik yang berat menambah beban tubuh. Di area panas seperti smelter, kelelahan dan heat stress sering muncul bersamaan. Pembahasan tentang panas ada di artikel heat stress di smelter.

Pengendalian kelelahan

Kelelahan tidak bisa diselesaikan oleh pekerja sendirian. Jadwal kerja, kondisi mess, dan budaya kerja di site sama-sama berperan.

Jadwal dan kebiasaan tidur

OSHA menyarankan beberapa kebiasaan tidur yang sehat, antara lain:

  • tidur 7–9 jam setiap hari tanpa gangguan, dan usahakan pada jam yang sama;
  • hindari minuman berkafein menjelang tidur;
  • bila bekerja shift sore atau malam, pastikan sudah tidur dalam 8 jam sebelum masuk kerja;
  • bila tidur singkat sebelum bekerja, buat kurang dari 45 menit atau lebih dari 2 jam, agar tidak bangun di tengah siklus tidur;
  • tidur di ruangan yang nyaman, sejuk, gelap, dan tenang.

Untuk pekerja shift malam, kamar mess yang gelap dan tenang pada siang hari sangat membantu. Ini tanggung jawab perusahaan juga, misalnya dengan tirai tebal, pengaturan kebisingan di area mess, dan pemisahan blok mess untuk pekerja shift malam bila memungkinkan.

Bila Anda sulit tidur terus-menerus, jangan mengatasinya sendiri dengan obat tanpa berkonsultasi dengan dokter klinik site.

Pemeriksaan kelelahan sebelum shift

Pemeriksaan singkat sebelum shift bisa dijalankan untuk pekerja pada tugas berisiko, seperti operator alat berat dan pengemudi. Pertanyaannya sederhana, misalnya:

  • berapa jam Anda tidur dalam 24 jam terakhir, dan dalam 48 jam terakhir;
  • sudah berapa jam Anda terjaga sejak bangun tidur;
  • apakah Anda baru tiba dari perjalanan jauh;
  • apakah Anda sedang sakit atau minum obat yang bisa membuat mengantuk.

Jawaban ini dibaca bersama pengamatan supervisor. Bila pekerja tampak terlalu lelah, pilihannya bisa berupa istirahat terlebih dahulu, penugasan sementara ke pekerjaan yang risikonya lebih rendah, atau pemeriksaan oleh tenaga medis. Tujuannya bukan menghukum, tetapi mencegah celaka.

Peran supervisor

Supervisor adalah orang yang paling sering melihat pekerja sebelum dan selama shift. Perannya antara lain:

  • menyusun jadwal yang memberi kesempatan istirahat dan tidur malam yang cukup, serta menghindari lembur berlebihan;
  • tidak menjadwalkan pekerja yang baru tiba dari perjalanan jauh langsung ke shift malam atau tugas kritis;
  • merotasi tugas yang monoton dan berisiko tinggi;
  • membuat pekerja merasa aman melaporkan diri sedang lelah, tanpa takut dimarahi atau dipotong upahnya.

Peran klinik site

Klinik site bisa membantu dengan menilai pekerja yang dilaporkan terlalu lelah, mencari kemungkinan penyebab medis, dan memberikan edukasi tentang tidur dan kelelahan. Klinik juga bisa mencatat kasus kelelahan per area dan jenis pekerjaan, sehingga pola masalah terlihat dan bisa dibahas bersama tim HSE.

Di tingkat perusahaan, OSHA menyarankan peninjauan beban kerja, jam kerja, dan kekurangan tenaga, penyesuaian lingkungan kerja seperti pencahayaan dan suhu, pelatihan tentang kelelahan, serta penerapan rencana manajemen risiko kelelahan yang diperlakukan seperti risiko K3 lainnya.

Program pengendalian kelelahan bisa dijalankan sebagai bagian dari layanan kesehatan kerja, dengan dukungan onsite clinic untuk pemeriksaan sebelum shift dan penanganan harian di site.

Diskusikan kebutuhan site