Heat stress adalah beban panas yang diterima tubuh dari lingkungan kerja dan dari kerja fisik itu sendiri. Di smelter, sumber panasnya hampir tidak pernah berhenti: tungku menyala sepanjang hari, logam cair dipindahkan setiap shift, dan pekerja harus tetap berpakaian pelindung lengkap. Tanpa pengendalian, beban panas ini bisa berujung pada gangguan kesehatan, mulai dari ruam kulit sampai kondisi gawat darurat.

Artikel ini ditujukan untuk tim HSE, pengawas, dan tim medis di site. Isinya membahas mengapa smelter berisiko tinggi, tanda yang perlu dikenali, cara memantau iklim kerja sesuai peraturan, dan langkah pengendalian yang bisa dijalankan setiap hari.

Mengapa smelter berisiko tinggi

Di kawasan pengolahan nikel seperti Morowali dan Weda, pekerjaan di area tungku menggabungkan beberapa sumber panas sekaligus.

  • Panas radiasi. Tungku, saluran tuang, dan logam cair memancarkan panas yang langsung mengenai tubuh, bahkan saat suhu udara di sekitarnya tidak terasa ekstrem.
  • Udara panas dan lembap. Iklim tropis pesisir membuat udara sudah hangat dan lembap sejak pagi. Keringat lebih sulit menguap, sehingga tubuh kehilangan cara utamanya untuk mendinginkan diri.
  • APD tebal. Pakaian tahan panas, pelindung wajah, sarung tangan, dan sepatu keselamatan wajib dipakai, tetapi juga menahan panas tubuh di dalam pakaian.
  • Kerja fisik dan shift panjang. Membersihkan kerak, mengganti peralatan, atau menangani material dilakukan dengan tenaga berat. Shift panjang dan roster kerja yang padat menambah beban kumulatif.

Karena itu, risiko heat stress di smelter tidak cukup diatasi dengan imbauan "banyak minum". Pengendaliannya perlu direncanakan, diukur, dan diawasi.

Tanda dan tingkatan gangguan akibat panas

Gangguan akibat panas punya beberapa tingkatan. Mengenali tanda awal memberi kesempatan untuk bertindak sebelum kondisi memburuk.

  • Ruam panas (heat rash). Bintik merah kecil atau lepuh halus di kulit, biasanya di leher, dada atas, lipatan siku, dan selangkangan. Muncul karena keringat berlebih di udara panas dan lembap.
  • Kram panas (heat cramps). Nyeri atau kejang otot di perut, lengan, atau tungkai pada pekerja yang berkeringat banyak saat bekerja berat. Kram juga bisa menjadi tanda awal heat exhaustion.
  • Kelelahan panas (heat exhaustion). Sakit kepala, mual, pusing, lemas, mudah marah, haus, berkeringat sangat banyak, dan buang air kecil berkurang. Pekerja perlu segera dikeluarkan dari area panas dan dinilai oleh tenaga medis.
  • Heat stroke. Kondisi paling berat: tubuh tidak lagi mampu mengatur suhunya. Tandanya antara lain bingung, bicara tidak jelas, perilaku berubah, kejang, atau tidak sadar. Kulit bisa terasa panas dan kering, tetapi bisa juga tetap berkeringat banyak.

Daftar di atas membantu mengenali pola, bukan untuk menilai diri sendiri atau rekan kerja. Setiap pekerja yang menunjukkan tanda-tanda tersebut perlu dinilai oleh tenaga medis di site.

Memantau iklim kerja dengan ISBB

Rasa panas setiap orang berbeda, sehingga pemantauan perlu memakai ukuran yang sama. Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 5 Tahun 2018 tentang K3 Lingkungan Kerja memakai Indeks Suhu Basah dan Bola (ISBB), yang di luar negeri dikenal sebagai WBGT. ISBB dihitung dari suhu udara kering, suhu basah alami, dan suhu bola, sehingga kelembapan, gerakan udara, dan panas radiasi ikut diperhitungkan.

Peraturan tersebut mewajibkan pengukuran dan pengendalian iklim kerja di tempat kerja yang memiliki sumber panas dan/atau ventilasi yang tidak memadai. Jika hasil pengukuran melebihi nilai ambang batas (NAB), pengendalian wajib dilakukan. NAB iklim kerja dalam lampiran peraturan ditentukan oleh dua hal: beban kerja dan porsi waktu kerja dalam setiap jam.

Waktu kerja setiap jamRinganSedangBeratSangat berat
75%–100%31,0 °C28,0 °C––
50%–75%31,0 °C29,0 °C27,5 °C–
25%–50%32,0 °C30,0 °C29,0 °C28,0 °C
0%–25%32,5 °C31,5 °C30,5 °C30,0 °C

Cara membacanya: makin berat pekerjaan dan makin besar porsi waktu kerja dalam satu jam, makin rendah ISBB yang diperkenankan. Tanda "–" berarti kombinasi itu tidak tercantum dalam tabel. Untuk kerja berat, porsi kerja paling tinggi yang tercantum adalah 50%–75% per jam.

Dalam praktik, pengukuran perlu dilakukan di titik tempat pekerja benar-benar berada, pada jam dan aktivitas yang mewakili kondisi terberat. Hasilnya dipakai untuk menyusun jadwal kerja-istirahat per area dan jenis pekerjaan, bukan hanya disimpan sebagai laporan.

Pengendalian di lapangan

Peraturan yang sama menyebut pilihan pengendaliannya: menghilangkan atau mengganti sumber panas, mengisolasi pajanan, ventilasi, air minum, pengaturan waktu pajanan, baju kerja yang sesuai, dan APD. Pengendalian teknis di sumber panas tetap yang paling efektif. Di samping itu, beberapa langkah berikut bisa dijalankan sehari-hari.

Aklimatisasi pekerja baru dan yang kembali

Tubuh butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan panas. NIOSH menyarankan pekerja baru memulai dengan paparan tidak lebih dari 20% dari durasi normal pada hari pertama, lalu bertambah tidak lebih dari 20% setiap hari berikutnya. Pekerja yang sudah berpengalaman dengan pekerjaan itu dapat memakai jadwal 50%, 60%, 80%, lalu 100% dalam empat hari.

Hal ini penting untuk site dengan sistem roster. Menurut NIOSH, pekerja yang tidak terpapar panas selama seminggu atau lebih bisa kehilangan sebagian besar adaptasinya, sehingga pekerja yang baru kembali dari cuti roster perlu diperlakukan sebagai kelompok berisiko pada hari-hari pertamanya.

Jadwal kerja dan istirahat

Jadwal kerja-istirahat disusun dari hasil pengukuran ISBB dan beban kerja, lalu ditempel di area kerja agar mudah diikuti. Pekerjaan paling berat sebaiknya dijadwalkan pada jam yang lebih sejuk atau dibagi ke beberapa pekerja secara bergilir.

Air minum dan area pendingin

Sediakan air minum yang sejuk dan mudah dijangkau dari area kerja. Pekerja dianjurkan minum sedikit-sedikit tetapi sering, tanpa menunggu haus. Siapkan juga area istirahat yang teduh atau berpendingin di dekat area panas, supaya waktu istirahat benar-benar menurunkan beban panas tubuh.

Sistem buddy dan peran pengawas

Pekerja yang mengalami gangguan akibat panas sering tidak menyadari kondisinya sendiri, terutama saat mulai bingung. Dengan sistem buddy, setiap pekerja saling memperhatikan rekannya. Pengawas dan pekerja perlu dilatih mengenali tanda-tanda di atas dan tahu siapa yang harus dihubungi.

Peran klinik site

Klinik di site adalah titik pertama ketika ada pekerja yang terganggu karena panas. Perannya bisa lebih luas daripada menunggu pasien datang:

  • Pemeriksaan sebelum shift untuk pekerja berisiko, misalnya pekerja baru, pekerja yang baru kembali dari cuti roster, atau yang baru pulih dari sakit.
  • Penanganan awal yang cepat: mengeluarkan pekerja dari area panas, mendinginkan tubuh, dan memantau kondisinya.
  • Rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap bila kondisi pekerja memerlukan, dengan jalur dan transportasi yang sudah disiapkan sebelumnya.
  • Pencatatan kasus per area dan jenis pekerjaan, sehingga pola masalah terlihat dan bisa dibahas bersama tim HSE.

Program ini bisa berjalan bersama layanan kesehatan kerja untuk pemetaan dan pengukuran bahaya, serta onsite clinic untuk penanganan harian di site.

Diskusikan kebutuhan site