Pencegahan malaria bagi pekerja site bertumpu pada tiga kebiasaan: mencegah gigitan nyamuk setiap malam, memeriksakan darah pada hari yang sama bila demam, dan minum obat pencegahan hanya bila dokter memutuskannya. Obat pencegahan (kemoprofilaksis) tidak menggantikan kelambu dan repelan. Pedoman nasional yang kami baca hanya menyebut doksisiklin untuk kemoprofilaksis, dan Buku Saku Tatalaksana Kasus Malaria terbitan Kementerian Kesehatan tahun 2018 membatasi pemberiannya tidak lebih dari 6 bulan. Artinya, pekerja roster yang keluar masuk daerah endemis sepanjang tahun tidak bisa mengandalkan obat saja.
Artikel ini ditulis untuk pekerja roster, terutama yang berasal dari daerah tanpa malaria. Di bagian akhir ada catatan untuk tim HSE.
Mengapa pekerja roster perlu lebih waspada?
Malaria disebabkan parasit Plasmodium yang ditularkan lewat gigitan nyamuk Anopheles betina yang terinfeksi. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut malaria masih banyak ditemukan di daerah terpencil dan sulit terjangkau, yaitu tempat banyak tambang, smelter, dan proyek berada. Kemenkes mencatat 418.546 kasus positif malaria di Indonesia pada 2023.
Pedoman Penanggulangan Malaria dalam Lampiran Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) Nomor 22 Tahun 2022 menyebut dua hal yang dekat dengan kehidupan site. Kegiatan pembangunan, termasuk pertambangan, sering mengubah lingkungan sehingga muncul tempat perindukan nyamuk buatan manusia. Perpindahan orang ke daerah endemis karena pekerjaan juga tercatat sebagai faktor penularan.
Tubuh Anda ikut berpengaruh. Buku Saku 2018 mencatat gejala klasik malaria, yaitu menggigil lalu demam tinggi dan berkeringat banyak, biasanya muncul pada orang yang berasal dari daerah non endemis. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memasukkan pelaku perjalanan ke kelompok yang lebih berisiko mengalami infeksi berat.
Bagaimana mencegah gigitan nyamuk di mess dan area kerja?
Pedoman Penanggulangan Malaria menulis bahwa nyamuk Anopheles menggigit pada malam hari, sejak matahari terbenam hingga menjelang pagi, dan sebagian menggigit di luar ruangan. Pedoman itu juga mencatat bahwa orang yang biasa berada di luar sampai larut malam mudah digigit bila nyamuk setempat menggigit di luar ruangan. Gambaran ini cocok dengan pekerja shift malam.
Langkah yang bisa Anda jalankan sendiri:
- Tidur di dalam kelambu. Menurut pedoman, kelambu berinsektisida tahan lama mencegah gigitan dan dapat membunuh nyamuk yang hinggap. Laporkan kelambu yang robek.
- Pakai repelan pada kulit yang terbuka. WHO menyarankan repelan yang mengandung DEET, IR3535, atau icaridin dipakai setelah senja.
- Tutup badan saat berada di luar pada malam hari. Baju lengan panjang dan celana panjang disebut dalam pedoman nasional dan anjuran Kemenkes. Coverall kerja membantu selama lengan dan kaki tertutup.
- Jaga kawat kasa pintu dan jendela mess. Kasa yang sobek atau pintu yang diganjal terbuka menghilangkan manfaatnya.
- Gunakan obat nyamuk di kamar. WHO menyebut obat nyamuk bakar dan alat penguap sebagai cara menurunkan risiko gigitan.
- Laporkan genangan air di sekitar camp. Kemenkes menganjurkan saluran air dilancarkan dan genangan dikeringkan agar tidak menjadi sarang nyamuk.
Apakah pekerja site perlu obat pencegahan malaria?
Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Tata Laksana Malaria dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/556/2019 menyebut kemoprofilaksis doksisiklin dapat diberikan bagi orang yang bepergian ke daerah risiko tinggi malaria. Pada 2019, pedoman itu mencontohkan Papua, Papua Barat, Maluku, dan Nusa Tenggara Timur. Kata "dapat" berarti obat ini pilihan yang diputuskan dokter, bukan kewajiban bagi semua orang.
Buku Saku 2018 menambahkan batasan: doksisiklin tidak boleh diberikan kepada ibu hamil dan anak di bawah 8 tahun, dan tidak boleh diberikan lebih dari 6 bulan. Batas 6 bulan ini tertulis di Buku Saku, tidak di PNPK. Jadwal minum menurut kedua pedoman juga berlanjut sampai beberapa minggu setelah keluar dari daerah risiko, sehingga cuti roster yang singkat tidak memutus masa minum obat. Bagi pekerja yang kembali ke daerah endemis setiap beberapa minggu, batas itu cepat tercapai.
Pedoman WHO tidak banyak membantu untuk situasi ini. WHO guidelines for malaria versi September 2026 menyatakan kemoprofilaksis tidak dibahas rinci dan belum ada rekomendasi formal untuk pelaku perjalanan yang tidak kebal. Dokumen itu hanya menyebut kemoprofilaksis bagi orang dengan pajanan kerja, misalnya penambang, layak dipertimbangkan. Beberapa artikel di internet menyebut obat pencegahan lain, tetapi dua pedoman nasional yang kami baca hanya menyebut doksisiklin.
Karena itu, di klinik site kami keputusan kemoprofilaksis dibuat dokter untuk setiap pekerja, bukan kebijakan pukul rata. Dokter mempertimbangkan lokasi kerja, lama penugasan, pola roster, kehamilan, riwayat kesehatan, dan obat lain yang sedang diminum. Untuk penugasan panjang, perlindungan utama tetap pencegahan gigitan dan tes darah dini. Jangan membeli atau meminum obat malaria sendiri.
Program pemerintah berbeda lagi. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/138/2024 menetapkan pemberian obat pencegahan massal malaria di sejumlah kabupaten dan kota di wilayah Papua dan Kalimantan Timur untuk 2023 sampai 2026. Di Kalimantan Timur sasarannya termasuk orang berusia 15 sampai 60 tahun yang tinggal atau beraktivitas di hutan. Bila site Anda berada di wilayah program, ikuti arahan klinik dan puskesmas setempat.
Demam di site: mengapa harus tes darah hari itu juga?
Menurut PNPK, keluhan utama malaria adalah demam, menggigil, dan berkeringat, dapat disertai sakit kepala, mual, muntah, diare, dan nyeri otot atau pegal. WHO mencatat gejala awal sering ringan dan mirip penyakit demam lain, biasanya muncul 10 sampai 15 hari setelah gigitan nyamuk yang terinfeksi. Malaria falciparum yang tidak diobati dapat berkembang menjadi berat dalam 24 jam.
Diagnosis pasti hanya lewat pemeriksaan darah. PNPK menyebut pemeriksaan mikroskopis sebagai baku emas. Tes diagnostik cepat (RDT) dipakai untuk keadaan darurat, kejadian luar biasa, dan fasilitas dengan keterbatasan pemeriksaan mikroskopis, dan idealnya disertai pemeriksaan mikroskopis. WHO meminta setiap suspek malaria dikonfirmasi dengan tes parasit, dengan hasil tersedia kurang dari 2 jam sejak pasien datang.
Di klinik site kami, setiap demam diperlakukan sebagai suspek malaria sampai pemeriksaan darah menyatakan sebaliknya, dan obat antimalaria diberikan berdasarkan hasil pemeriksaan itu. Bagi Anda, artinya datang ke klinik saat demam meskipun terasa seperti flu, lalu habiskan obat sesuai petunjuk bila hasilnya positif. Obat program nasional, yaitu DHP dan primakuin untuk malaria tanpa komplikasi serta artesunat injeksi untuk malaria berat, perlu sudah tersedia di klinik sebelum dibutuhkan. Cara merencanakan stok untuk site yang dipasok per kapal atau pesawat ada di artikel pengelolaan obat klinik site.
Kapan malaria harus dirujuk?
PNPK menyebut tanda malaria berat: penurunan kesadaran, demam tinggi, kulit atau mata kuning, jumlah urine sedikit, urine coklat kehitaman, kejang, dan sangat lemah. Pasien dengan tanda ini harus segera dirujuk ke fasilitas yang sarananya lebih lengkap. Buku Saku 2018 meminta klinik tanpa rawat inap langsung merujuk pasien malaria berat, setelah memberi dosis awal artesunat. WHO menjelaskan alasannya: risiko kematian akibat malaria berat paling tinggi pada 24 jam pertama, sedangkan perjalanan rujukan di daerah endemis biasanya lama.
Bagi site yang jauh dari rumah sakit, rujukan ini berarti evakuasi medis. Persiapannya kami bahas di artikel evakuasi medis dari site terpencil.
Bagaimana bila demam setelah pulang cuti?
Gejala bisa muncul saat Anda sudah di rumah. Dokter di daerah tanpa malaria belum tentu memikirkannya, padahal PNPK dan Buku Saku meminta setiap pasien demam ditanya riwayat bepergian atau tinggal di daerah endemis. WHO juga meminta petugas di daerah dengan kasus sangat sedikit mengenali pasien demam yang baru bepergian ke daerah endemis.
Kami membekali pekerja yang akan cuti dengan kartu berisi pesan ini. Setelah sembuh dari malaria, kesiapan kembali ke site dinilai dokter, seperti dijelaskan di artikel fit to work pekerja site.
Catatan untuk HSE
- Periksa dasar hukumnya. Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 tentang Penanggulangan Penyakit mencabut Permenkes 22/2022, kecuali Pasal 29 dan Lampirannya. Pedoman Penanggulangan Malaria dalam Lampiran itu tetap berlaku.
- Mess dan area kerja termasuk sasaran pengendalian vektor. Permenkes 3/2026 mewajibkan pengelola tempat kerja menyelenggarakan kesehatan lingkungan, dan pengendalian vektor juga ditujukan ke tempat kerja. Masukkan kelambu, kawat kasa, dan genangan air ke inspeksi camp rutin.
- Klinik site wajib mencatat dan melaporkan. Setiap fasilitas pelayanan kesehatan wajib mencatat dan melaporkan kejadian penyakit secara rutin dan berkala, dan pelanggarannya dapat dikenai sanksi administratif. Pedoman malaria meminta klinik yang mendiagnosis dan mengobati malaria melaporkan datanya ke dinas kesehatan kabupaten atau kota, langsung lewat SISMAL atau lewat puskesmas setempat bila kasusnya sangat sedikit.
- Beri edukasi saat induksi dan sebelum cuti. Pekerja baru dari daerah non endemis perlu tahu cara memakai kelambu dan kapan harus ke klinik.
- Pantau pola kasus per area. Bila kasus terkumpul di satu area kerja atau blok mess, periksa kondisi lingkungannya bersama pengelola camp.
Layanan klinik onsite kami menyiapkan tenaga medis yang bergantian mengikuti roster, obat dan alat kesehatan, SOP rujukan, serta pencatatan dan laporan berkala untuk site Anda.




