Alat AED (automated external defibrillator) adalah perangkat portabel bertenaga baterai untuk menolong orang yang mengalami henti jantung. Pad yang ditempel di dada korban membaca irama jantungnya, lalu alat memutuskan apakah kejut listrik diperlukan dan memandu penolong dengan perintah suara. Di site kerja, manfaat alat ini bergantung pada dua hal: seberapa cepat AED sampai ke korban, dan apakah ada orang terlatih yang langsung memulai RJP (resusitasi jantung paru). Karena itu site yang luas membutuhkan beberapa unit di dekat konsentrasi pekerja, baterai dan pad yang diperiksa berkala, dan penolong terlatih di setiap shift. Kami tidak menemukan peraturan Indonesia yang mengharuskan AED di tempat kerja, sehingga keputusan pengadaannya bertumpu pada penilaian risiko site.
Artikel ini ditulis untuk tim HSE dan pengadaan di site tambang, smelter, perkebunan, dan proyek konstruksi yang jauh dari rumah sakit.
Mengapa waktu begitu menentukan pada henti jantung?
Pedoman European Resuscitation Council (ERC) 2025 menempatkan tiga tindakan awal sebagai mata rantai pertama pertolongan: kompresi dada yang cepat dan berkualitas, pemberian napas bantuan, dan pemakaian AED sesegera mungkin. Buku ERC untuk masyarakat umum menyebut peluang selamat dari henti jantung di luar rumah sakit meningkat bermakna bila korban segera mendapat RJP dan kejut dari AED, dan setiap menit keterlambatan kejut menurunkan peluang selamat sebesar 10%. Pedoman bantuan hidup dasar dewasa American Heart Association (AHA) 2025 memuat unsur yang sama: mengenali henti jantung, mengaktifkan respons darurat, RJP berkualitas tinggi, dan pemakaian AED. Halaman FDA tentang AED juga menyebut kombinasi RJP dan defibrilasi dini efektif bila dilakukan pada menit-menit pertama setelah korban kolaps.
AED tidak bisa memberi kejut sembarangan. Menurut ERC, alat tidak akan mengeluarkan kejut bila tidak mendeteksi kondisi yang sesuai. Artinya penolong awam cukup mengikuti perintah suara, sementara kompresi dada tetap menjadi pekerjaan utama sampai alat siap.
Apakah AED diatur dalam peraturan P3K di Indonesia?
Permenakertrans PER.15/MEN/VIII/2008 tentang P3K di tempat kerja tidak menyebut AED atau defibrilator sama sekali, baik di pasal maupun lampirannya. Pasal 8 ayat (1) merinci fasilitas P3K sebagai ruang P3K, kotak P3K dan isinya, alat evakuasi dan transportasi, serta fasilitas tambahan untuk potensi bahaya khusus, yang oleh ayat (3) dijelaskan sebagai pancuran untuk membasahi tubuh dan alat pembilas mata. Untuk pertambangan, Lampiran III Kepmen ESDM Nomor 1827 K/30/MEM/2018 meminta penyediaan petugas, fasilitas, peralatan, dan pelatihan P3K sesuai peraturan yang berlaku, tanpa menyebut AED.
Jadi AED paling tepat diperlakukan sebagai fasilitas tambahan berbasis risiko yang menempel pada struktur P3K yang sudah ada. PER.15/2008 Pasal 2 meminta pengusaha menyediakan petugas dan fasilitas P3K, Pasal 3 mengatur lisensi petugas, dan Pasal 5 ayat (2) meminta petugas tersedia di setiap shift dan di unit kerja yang berjarak 500 meter atau lebih. Titik AED dan penolong terlatih sebaiknya mengikuti peta yang sama. Cara menghitung petugas per shift dan unit kerja kami bahas di artikel petugas P3K di tempat kerja.
Soal mutu alat, FDA di Amerika Serikat mensyaratkan persetujuan pra-pasar untuk semua AED beserta aksesori pentingnya, seperti baterai, elektroda pad, dan adaptor. Aturan itu berlaku di pasar AS, tetapi daftar tersebut memberi gambaran komponen yang perlu dicek saat pengadaan: minta pemasok memastikan pad dan baterai cocok dengan model alat dan tersedia untuk penggantian.
Di mana alat AED ditempatkan di site yang luas?
ERC menilai penempatan, kemudahan akses, dan kecepatan mengambil AED sebagai penentu hasil. Untuk AED publik, ERC menganjurkan alat mudah dijangkau, bertanda jelas, dan disimpan di lemari yang tidak terkunci serta bisa dibuka 24 jam setiap hari. ERC juga menganjurkan pihak yang bertugas merespons keadaan darurat membawa AED di kendaraannya.
Satu AED di klinik site tidak menjangkau pit, jalan angkut, atau blok kebun yang berjarak beberapa kilometer. Hitung titik AED dari waktu yang dibutuhkan untuk membawa alat ke tempat pekerja berkumpul, lalu buktikan dengan simulasi: berapa lama sejak panggilan radio sampai pad menempel di manekin. Sumber primer yang kami baca tidak menetapkan batas menit tertentu, jadi target waktu site sebaiknya disepakati bersama dokter site dan dicatat alasannya.
| Titik | Mengapa di sini |
|---|---|
| Workshop | Banyak pekerja per shift dan pekerjaan fisik berat |
| Ruang kendali | Dijaga sepanjang shift dan menjadi pusat komunikasi radio |
| Mess dan kantin | Tempat pekerja berkumpul di luar jam kerja, termasuk malam hari |
| Pos keamanan | Dijaga 24 jam, dekat gerbang dan jalur keluar kendaraan |
| Kendaraan patroli atau ambulans | Menjangkau pit, jalan angkut, dan kebun yang tersebar |
| Klinik site | Titik rujukan pertama dan tempat stok cadangan |
Bagaimana merawat baterai dan pad di iklim panas dan berdebu?
FDA menjelaskan bahwa sistem AED mencakup aksesori seperti baterai dan elektroda pad, yang diperlukan agar alat bisa membaca irama jantung dan memberi kejut. Jika salah satunya kedaluwarsa atau rusak, alat tidak siap pakai walaupun terlihat utuh.
Batas suhu penyimpanan dan masa pakai baterai dan pad berbeda antarmodel, jadi ambil angkanya dari petunjuk pabrikan, bukan dari brosur umum. Di site tropis, titik rawannya adalah lemari yang terkena matahari langsung, kabin kendaraan yang diparkir di tempat panas, dan area berdebu seperti crusher atau jalan angkut. Pilih titik pasang yang teduh, gunakan lemari yang melindungi dari debu, dan cocokkan kondisi ruangannya dengan rentang suhu pabrikan.
Daftar periksa berkala yang kami sarankan:
- lampu atau layar status alat menunjukkan siap pakai dan tidak ada bunyi peringatan;
- kemasan pad masih tersegel dan tanggal kedaluwarsanya belum lewat;
- tanggal pakai baterai masih berlaku, dan penggantinya sudah dipesan jauh sebelum habis;
- lemari tidak terkunci, tanda arah terlihat, dan tidak terhalang barang;
- perlengkapan pendukung yang dianjurkan pabrikan lengkap;
- hasil pemeriksaan dicatat per nomor seri, dengan nama pemeriksa dan tanggal.
Tunjuk klinik site sebagai pemilik tugas. Klinik menyimpan daftar semua AED beserta nomor seri dan lokasinya, menjadwalkan pemeriksaan, dan memegang stok cadangan. Di site remote, pengiriman barang bisa memakan waktu lama, jadi simpan paling tidak satu set pad dan baterai cadangan per model alat, dan pesan penggantinya mengikuti jadwal logistik site. Layanan alat kesehatan kami mencakup pengadaan, pengiriman sampai ke site, dan pemeliharaan berkala.
Siapa yang dilatih, dan bagaimana sebarannya per shift?
AED tanpa penolong terlatih hanya menjadi kotak di dinding. Latih petugas P3K di setiap unit kerja dan shift untuk RJP dan pemakaian AED, lalu tambahkan orang di titik yang selalu dijaga, seperti operator ruang kendali dan petugas keamanan. Periksa sebarannya per nama terhadap jadwal roster. Contohnya, pada roster 10 minggu kerja dan 2 minggu cuti, orang terlatih di shift malam workshop bisa saja sedang cuti bersamaan.
Langkah yang dilatih mengikuti urutan ERC dan edukasi Kemenkes:
- Periksa respons dan napas. Napas megap-megap bukan napas normal.
- Panggil bantuan lewat kanal darurat site (edukasi Kemenkes untuk tempat umum menyebut nomor 119), dan minta satu orang mengambil AED terdekat.
- Mulai kompresi dada di tengah dada, kedalaman 5 sampai 6 cm, kecepatan 100 sampai 120 kali per menit.
- Nyalakan AED dan ikuti perintah suaranya. Satu pad di bawah tulang selangka kanan, satu di sisi kiri dada di bawah ketiak.
- Jangan menyentuh korban saat alat menganalisis dan memberi kejut.
- Setelah kejut, segera lanjutkan kompresi sampai tim medis mengambil alih.
Latihan dengan manekin dan AED latih sebaiknya diulang secara terjadwal, bukan sekali saat induksi. Program pelatihan K3 dan P3K kami menjadwalkan latihan ini mengikuti roster.
Apa yang terjadi setelah kejut diberikan?
Kejut listrik hanya satu mata rantai. Tim klinik site mengambil alih penanganan, menstabilkan korban, dan menyiapkan rujukan ke rumah sakit yang mampu memberi perawatan lanjutan. Di site yang jauh, jalur evakuasi darat, laut, atau udara perlu ditetapkan sebelum kejadian, termasuk siapa yang menghubungi rumah sakit tujuan. Peran klinik dalam rantai ini kami uraikan di artikel klinik site tambang.
Setelah kejadian, klinik mengganti pad yang terpakai, memeriksa baterai, mengembalikan AED ke titiknya, dan mencatat kejadian. Bila model alat menyimpan rekaman kejadian, ikuti petunjuk pabrikan untuk mengambil datanya bagi dokter yang menangani. Tinjau juga waktu respons nyata: berapa menit sampai AED tiba, dan apakah titiknya perlu digeser.




